Pembangunan Jembatan Nilo  Pangkalan Kerinci Diduga  Gunakan BBM Bersubsidi,  Proyek Kemen PUPR  Tahun  2020- 2021 Senilai Rp 94 Miliar Lebih 

oleh

detektifswasta.xyz

Pelalawan,- Pelaksanaan pekerjaaan pembangunan Jembatan Nilo di jalan Lintas Timur Pangkalan Kerinci  Kabupaten Pelalawan Provinsi  Riau yang  dimulai  tahun 2020 diduga menggunakan Bahan Bakar Minyak Solar bersubsidi.

Pelaksana Pekerjaan dalam proyek ini, PT. Semangat Hasrat Jaya dan PT. Tata Inti Sepakat KSO merupakan anak Perusahaan PT Lutvindo Sakti Jaya Perkasa dan sebagai konsultan Supervisi, PT.  Dhanes Mantara Consultan, PT. Epadascon Permata KSO, PT. Raisa Gemilang.

Jembatan yang dibangun dengan dana  SBSN tahun anggaran sebesa Rp  94.401.810.081,-  oleh masyarakat Pangkalan Kerinci ditenggarai banyak permasalahan dalam pengerjaannya.

Permasalahan yang disoal masyarakat Pangkalan Kerinci ini diantaranya, pihak pelaksana pekerjaan tidak mencantumkan detail volume kegiatan (Panjang dan Lebar jembatan yang dibangun tidak dicantumkan dalam papan proyek)

Hal lainnya yang tidak luput dari sorotan masyarakat adalah, pembangunan jembatan diduga menggunakan Bahan Bakar Minyak Solar Bersubsidi Pemerintah.

DETEKTIFSWASTA menyambangi lokasi kegiatan proyek pembangunan jembatan Nilo   Kamis, 19 Agustus 2021 sekitar pukul 14.00 Wib

Untuk mendapatkan informasi, DETEKTIFSWASTA  mencoba mencari tahu terkait penggunaan BBM apa yang dipergunakan dalam pembangunan jembatan tersebut kepada warga sekitar.

Salah seorang warga yang berdomisili dilokasi pembangunan sebut saja  Anto (bukan nama sebenarnya-pen) menjelaskan, ” kalau setahu saya, untuk minyak solar diangkutnya pakai jerigen menggunakan mobil pick up, jenis L300 Pak. Saya tidak pernah melihat mobil truk tangki pengangkut minyak”, sebutnya

Informasi sebelumnya yang diterima DETEKTIFSWASTA, sebagai pemasok cor beton pada pekerjaan pembangunan Jembatan Nilo  adalah PT Lutvindo Sakti Jaya Perkasa.

Menindaklanjuti informasi tersebut DETEKTIFSWASTA  mencoba menyambangi lokasi Batching Plant PT. Lutvindo yang beralamat di jalan koridor PT RAPP Km 3 Pangkalan Kerinci.

Dilokasi Batching Plant PT Lutvindo Sakti Jaya Perkasa, DETEKTIFSWASTA mendapatkan Informasi dari salah seorang  pekerja  yang intinya  membenarkan  Cor Beton untuk  Pekerjaan Jembatan Nilo  seluruhnya dikerjakan oleh   PT. Lutvindo. “Iya Pak, ini Batching Plant PT Lutvindo, kita yang mengerjakan pengecoran jembatan yang di jalan lintas Timur Pangkalan Kerinci”,  jelasnya.

Bagian Logistik PT Lutvindo,  Wendy yang dikonfirmasi DETEKTIFSWASTA  melalui ponselnya   Selasa  24/08/ 2021 mengakui mereka  memang menggunakan minyak solar bersubsidi pemerintah. ” Itu dulu Bang, sekarang ini tidak lagi, sejak empat bulan belakangan ini, (Sejak sekitar bulan April  2021-pen)  kami tidak pakai minyak subsidi lagi Bang”,  ujarnya.

Ditanyakan sebelumnya, kepada Kepala Pelaksana di Lapangan, bernama Anton melalui sambungan WhatsAppnya, Selasa, 24 Agustus 2021.

Anton menjelaskan   “PT. Semangat Hasrat Jaya dan PT. Tata Inti Sepakat KSO adalah Anak Perusahaan dari PT Lutvindo Sakti Jaya Perkasa”. Terkait pihaknya ada menggunakan solar bersubsidi, Anton membantahnya. ” Kami menggunakan BBM industri Bang, siapa yang mengatakan kami menggunakan BBM bersubsidi Bang,” ujar Anton mencoba berkelit.

Informasi yang dihimpun DETEKTIFSWASTA, kegiatan Pembangunan Jembatan Pangkalan Kerinci Nilo  telah dikerjakan sekitar pertengahan tahun 2020.  Itu artinya pihak PT. Lutvindo dengan anak perusahaannya,  selama hampir satu tahun diduga menggunakan BBM bersubsidi pemerintah dalam operasional kegiatannya.

Menurut seorang pengusaha yang  memminta namanya tidak  dipublikasikan, bila benar  dalam pekerjaan pembangunan Jembatan Nilo  Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan tersebut menggunakan BBM Solar Bersubsidi  maka  pihak perusahaan telah melakukan perbuatan melawan hukum melanggar  Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.

Sampai berita ini disampaikan ke meja Redaksi, belum diterima penjelasan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.2 Provinsi Riau,  Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) II Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Dari Pihak Polres Pelalawan juga belum didapatkan penjelasan (Richard Simanjuntak)