Akhirnya, WHO Sukses Rampungkan Penyelidikan Awal Asal-Usul Corona di China

oleh
detektifswasta.xyz – Indonesia

Pada 10 Juli lalu, Reuters sempat mengabarkan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah resmi mengirim dua tim ahli untuk menyelidiki asal-usul virus COVID-19 di China. Setelah hampir satu bulan berselang, kini WHO dilaporkan telah berhasil merampungkan fondasi untuk misi penyelidikan tersebut.

Sebagaimana dilansir dari Global Times, pernyataan penyelesaian dasar upaya penyelidikan telah dikonfirmasi langsung oleh Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Senin (27/7) kemarin.

“Tim pendahulu WHO yang melakukan perjalanan ke China kini telah menyelesaikan misi mereka untuk meletakkan dasar bagi upaya bersama lebih lanjut untuk mengidentifikasi asal virus (COVID-19),” kata Tedros dalam konferensi pers virtualnya kemarin.

Sementara itu, Daily Progress menambahkan bahwa dalam konferensinya, Tedros juga menyebut bahwa WHO akan mengirim ‘tim internasional’ khusus ke Wuhan. Seperti diketahui, selama ini, Wuhan dianggap luas sebagai tempat awal meletusnya wabah virus corona.

Selain itu, Tedros juga menjelaskan bahwa WHO dan China telah bersama-sama menyusun ‘kerangka acuan’ penyelidikan. Meski begitu, Tedros tidak menyebutkan secara gamblang atau detail tentang kerangka acuan yang dimaksud.

“Studi epidemiologis akan dimulai di Wuhan untuk mengidentifikasi sumber infeksi potensial pada kasus awal,” lanjut Tedros.

Setelah itu, Tedros menambahkan bahwa WHO akan menggunakan bukti dan hipotesis yang dihasilkan dari penelitian awal sebagai dasar studi jangka panjangnya.

Sementara itu, Kepala Situasi Darurat WHO, Dr. Michael Ryan juga menjelaskan bahwa kesulitan penelitian mencakup ‘kesenjangan dalam lanskap epidemiologis’. Padahal menurutnya, hal tersebut adalah kunci untuk menjawab studi apa yang harus dilakukan serta data apa yang harus dikumpulkan.

“Trik sebenarnya adalah pergi ke klaster pertama penularan virus ke manusia dan kemudian kembali melacak sinyal pertama di mana penularan melintasi antara manusia dan spesies hewan.

“Setelah Anda mendapatkan trik tersebut, maka Anda bisa melanjutkan studi dengan cara yang lebih sistematis dari sisi penularan hewan,” ucap Ryan sembari menambahkan bahwa dua tim pendahulu WHO belum kembali dari China.

Komentar dari pihak WHO ini sebenarnya muncul di tengah semakin maraknya kasus infeksi serta kematian di Amerika Serikat (AS), Brasil, serta India.

Pada hari Kamis (30/7), penasihat top COVID-19 dari Gedung Putih, Dr. Deborah Birx, juga telah mengklaim bagaimana virus sangat luas menyebar di AS. Tidak hanya itu, Birx juga menyebut bahwa berbagai infeksi di kota serta perdesaan di AS telah menandai ‘fase baru’ pandemi di Paman Sam.

Namun, saat diminta untuk menanggapi klaim Birx, Ryan terlihat menampik. Dalam keterangannya, Ryan menilai bahwa tidak ada fase baru di AS.

Ryan kemudian memperingatkan kepada semua negara bahwa penyakit COVID-19 memang belum benar-benar hilang.

“Bukan tugas kami untuk memberi tahu AS apa yang harus dilakukan di tingkat sub-nasional: Perencanaan dan implementasi berbasis negara yang dipandu oleh para ilmuwan nasional tampaknya sudah berada di jalan yang benar.

“Kesulitan bagi kita semua adalah: kadang-kadang kita tahu mana jalan yang benar. (Tetapi) Kesulitannya kemudian adalah memilih untuk benar-benar berjalan di jalan itu,” terang Ryan.

Sementara itu, tim penyelidik WHO diketahui sudah tiba di China sekitar pertengahan Juli lalu. Namun, Global Times menyebut bahwa saat itu, banyak media Barat, termasuk New York Times, yang lantas memojokkan China.

Lebih lanjut, Global Times menulis bahwa New York Times sempat memprediksi bahwa penyelidikan mungkin akan memakan waktu berbulan-bulan dan dapat menghadapi penundaan.

Zeng Guang, kepala ahli epidemiologi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, sebenarnya sudah menjelaskan bahwa melacak asal-usul virus bukanlah pekerjaan yang mudah.

Guang lantas menambahkan bahwa penyelidikan perlu banyak persiapan, termasuk membahas metode teknis untuk meneliti dan mengidentifikasi sumber virus.

Analisis Guang ini juga didukung oleh Wang Guangfa, seorang ahli pernapasan Peking University First Hospital. Guang pun menyampaikan fakta bahwa WHO bisa menyelesaikan misinya kurang dari waktu sebulan adalah pencapaian luar biasa.

“Identifikasi sumber virus corona harus didasarkan pada negosiasi dan melibatkan banyak negara.

“Tidak masalah negara mana yang memulai identifikasi ilmiah, asalkan melibatkan semua negara terkait dan dilakukan secara adil,” kata Zeng sembari memaparkan bahwa WHO masih harus mengumpulkan bukti secara global, dan tim harus dikirim ke semua negara yang terlibat untuk identifikasi ilmiah dan penelitian. [EL]